Minggu, 30 September 2012

HIV/AIDS

AIDS, Fakta Medis, Fakta Sosial Masih Masalah
Oleh: Fadmin Prihatin Malau

Dua puluh tahun lalu di Medan, penulis sebagai relawan untuk mensosialisasikan tentang bahaya suatu gejala penyakit yang dapat menurunkan system kekebalan tubuh karena terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Begitu cepat waktu berlalu, sekembalinya penulis ke kota Medan, tepat pada saat memperingati Hari AIDS se-Dunia pada 1 Desember 2011 lalu, penulis menjadi presenter tamu untuk acara “Dialog Interaktif Memeringati Hari AIDS se-Dunia” live pukul 16.30 Wib di M. Radio 91,6 FM selama 60 menit.

Sangat bahagia sebab yang menjadi nara sumber dr. Delyuzar, Direktur Jaring Kesehatan Masyarakat (JKM) yang juga Ketua Kolaborasi TBHIV Sumatera Utara. Dua puluh tahun lalu dr. Delyuzar bersama penulis mensosialisasikan bahaya HIV yang membawa nama Yayasan Humaniora Medan dengan Direkturnya, dr. Rizali H Nasution, DAN yang kini sebagai ketua badan pendiri Kelompok Humaniora-Pokmas Mandiri.

Pagi hari pada Hari AIDS se-Dunia itu, penulis mendengar berita M. Radio 91,6 FM menyiarkan komentar dr. Rizali H Nasution DAN yang mengatakan AIDS sekarang ini adalah fakta medis maka penanganannya juga harus dengan medis, tidak bisa lagi seperti dua puluh tahun lalu hanya dengan fakta sosial.

Apa yang dikatakan dr. Rizali H Nasution itu memang benar sebab seingat penulis pada tahun 1992 baru terdeteksi satu orang kena HIV. Namun, meskipun baru satu orang bukan berarti tidak masalah, tetap menjadi masalah sebab HIV akan masuk menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) yang kata para ahli waktu itu masuk dalam kelompok penyakit baru.

AIDS Fakta Medis

Benar AIDS kini fakta medis bagi Indonesia sebab HIV-AIDS awalnya tahun 1970-an ditemukan di Negara Afrika sub-Sahara dan kasus ditemukannya HIV-AIDS ini tersiar pada Juni 1981 di Los Angeles serta di Indonesia tahun 1990-an. Hebatnya tahun 1993 laporan bank dunia menyebutkan Indonesia termasuk negara yang rawan AIDS meskipun faktanya waktu itu angka yang terkena HIV positif masih sangat sedikit.

Kini terbukti, angka penderita dan korban AIDS sudah sangat banyak. AIDS bukan hanya di rumah sakit saja akan tetapi sudah sampai ke rumah kita maka menjadi fakta medis dan penanganannya juga harus harus dengan medis meskipun obat untuk mengobati AIDS sampai kini belum ditemukan. Hal ini pula yang membuat masalah AIDS terus dibicarakan.

Bila obat untuk mengobati AIDS sudah ditemukan maka menjadi seratus persen fakta medis. Kini penanganan AIDS dari fakta medis baru sebatas langkah-langkah medis seperti penyebab menularnya HIV-AIDS lewat hubungan seks yang tidak aman atau dengan pasangan yang tidak diketahui apakah sudah terkena HIV positif atau tidak maka langkah medisnya jika ingin melakukan seks yang tidak aman, pakailah kondom.

Nah, suruhan memakai kondom bukan berarti melegalkan atau membolehkan melakukan perzinaan karena bisa saja tidak ada ancaman HIV-AIDS orang akan berzina juga. Bila ini yang dibicarakan maka fakta sosial yang menonjol dan orang tidak akan pakai kondom ketika berhubungan seks dengan pasangan yang tidak aman.

Fakta Sosial Masih Masalah

Repot memang, begitu kata dr. Delyuzar spesialis pathologi ketika acara “Dialog Interaktif Memeringati Hari AIDS se-Dunia” live M. Radio 91,6 FM yang mendapat respon dari para pendengar lewat line telepon, sms, facebook selama 60 menit. Pendengar bertanya dan memberikan tanggapan tentang HIV-AIDS dari fakta sosial yang ternyata masih menjadi masalah besar.

Masih banyaknya yang bertanya dari fakta sosial satu inikator bahwa HIV-AIDS belum dikenal secara baik. Bagaimana mau menghindari AIDS bila fakta sosial masih bermasalah. Idealnya fakta sosial tidak menjadi masalah lagi maka akan lancar penanganan AIDS dari fakta medis.

Melihat korban AIDS sudah cukup banyak maka fakta medis harus sudah dilakukan dengan indikator masyarakat sudah mengetahui HIV-AIDS dengan baik dan benar. Faktanya dari Dialog Interaktif tentang AIDS selama 60 menit yang penulis pandu bersama dr. Delyuzar masih sangat minim pengetahuan pendengar tentang HIV-AIDS. Hal ini tergambar dari tanggapan dan pertanyaan yang masuk ke studio M. Radio lewat sms, line telepon dan facebook.

Boleh jadi banyaknya orang kena HIV-AIDS disebabkan karena fakta sosial yang masih masalah. Sampai ada yang bertanya dalam Dialog Interaktif tentang AIDS itu, apa saja ciri-ciri orang yang terkena HIV positif.

Dengan santai dan sabar dr. Delyuzar menjelaskan tidak memiliki ciri-ciri khusus bagi mereka yang terkena HIV positif. Jika sebelumnya cantik akan tetap cantik, bila sebelumnya ganteng akan tetap ganteng akan tetapi dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun kemudian baru terlihat ketika daya tahan tubuhnya sudah anjlok.

Nah, karena tidak ada ciri-ciri khusus ini menjadi masalah besar dalam menghindari tertularnya HIV-AIDS dan ketika sudah terkena AIDS secara positif masyarakat menjadi takut, penderita AIDS dijauhi, dikucilkan karena takut tertular pada hal kalau hanya tinggal serumah, makan dengan satu meja dan lainnya tidak masalah asalkan jangan sampai tertular cairan tubuh yang mengandung HIV positif.

Seharusnya dalam kurun waktu dua puluh tahun lamanya fakta sosial ini tidak masalah lagi sehingga bisa masuk ke fakta medis meskipun tidak total. Tanpa harus mencari “Kambing Hitam” siapa yang salah dan siapa yang bertanggungjawab, masalah AIDS sudah sangat mengkhawatirkan, mengancam kita (Anda) semua. Waspada dan analisalah kondisi kita masing-masing. Semua kita bisa kena akibat tidak memeriksakan kesehatan dan gaya hidup yang kurang (tidak) terkontrol.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar